Sabtu, 25 Juni 2011

Bocah tenggelam ditelan sungai

Banjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrr!....dimana Pak?, "di sungai nak","kenapa di sungai banjir pak?". "Kan tadi hujan lebat nak"."Kenapa hujan lebat bisa jadi banjir Pak?"."Karena banyak yang buang sampah ke sungai nak, jadi banjir klo ada hujan". "Emang klo di sungai banjir, kenapa Pak?"."Rumah penduduk bisa ke rendem nak"."Oo..oh, jadi klo air sungainya ngerndem bapak gak apa-apa?"."Kgk mungkin nak, rumah bapak kan 4 lante"."Jangankan bapak, mata kaki bapak aja kgk mungkin kerendem, nak!"."Oo..oh, tapi  pak itu airnya udah ngerndem pinggang bapak". Si Bapak baru nyadar kalau banjir hampir menenggelamkan dirnya. Si Bapak lari sambil menggerutu: "Dasar bocah gemblung!". Si Bocah senyum, dan semakin lebar senyumnya, kemudian mengeluarkan tertawa kecilnya, sampai Si Bocah terbahak melihat si Bapak yang lari. Si Bocah terus berjalan menuju sungai sampai tidak kelihatan seperti di telan air.

Jumat, 03 Desember 2010

Mesjid Kosong

”Beh, kok sekarang yang ke mesjid semakain kurang ya?” Tanya si Jek sambil menyulut kereteknya yang tinggal setengah. ”Kenapa nanya babeh, harusnya kamu tamya sama orang-orang yang kagak ke mesjid” Agak sewot si Babeh menjawabnya. “He..he..barangkalil aja babeh tehu”.”Tapi beh, bener juga kata keterangan”. “Keterengan apaan kaya ustad di mushola aja?” Si Babeh agak ngeledek. “Yaa..ini juga katanya, waktu itu nabi pernah bersabda bahwa suatu saat kelak mesjid itu bakal semakain gedong alias mewah, tapi pengisinya semakin berkurang alias kosomg. Jadi kalau sudah kosong bagaimana beh?”. “Tinggal bakar aja, atau dijadikan kandang kambing, beres kan?” Jawab si Babeh dengan wajah tanpa dosa. Si Jek bengong, kagak nyangka kalau si Babeh akan memberikan jawaban seperti itu. 

Bersambung….



Keterangan gambar:
Sumber :
http://parasphoto.wordpress.com/2010/01/21/masjid-raya-cipaganti/
http://parasphoto.files.wordpress.com/2010/01/pp-14.jpg

Jumat, 26 November 2010

Bunga Cinta

Apakah kau sudah bertemu dengannya?Pasti  setiap saat, ya? Padahal aku sangat merindukannya. Senyum, tutur sapa, selalu indah didengar dan di lihat. Setiap orang berceritera tentang dia, pasti jantung ku berdebar.
Huuu……..uuuh! Kenapa sulit sekali menemui dia? Apakah karena aku hanya seorang pemulung  yang penuh kotoran daki jalanan?Aah..! tidak mungkin dia serendah itu.
Menurut ceritera, dia pernah memasang muka masam kepada seseorang yang tidak biasa tapi tidak lama, dia segera minta maaf. Ya…., mungkin waktunya belum sampai. Aku hanya bisa terus berharap dan berharap pertemuan yang indah itu terjadi.

Sabtu, 12 Juni 2010

Entah

,Dia menyapa dengan senyum, tak sepatah katapun dia lontarkan. Aku membalas senyumannya, dengan bingung yang ada di pikiran. Karena terus  terang saja aku tidak kenal, bahkan sekalipun belum pernah bertemu dengan sosok dan wajah serta senyumannya itu.

Apakah dia seorang perempuan tampan atau seorang laki-laki cantik? Malaikat atau Iblis? Etahlah.
Aku hanya ingin jalan itu diterangi walau hanya dengan teja malam, dan remang rembulan, atau kerlip bintang yang tidak pernah pergi barang sekejap.

Aku hanya ingin tetap berjalan walau tertatih. Aku tidak ingin lelah menjadi momok menakutkan. Aku hanya ingin terus menyapa cahaya terang yang meliputi jagat raya.

Ingatkan! Tegur aku, jika aku keliru, Maafkan aku, jika telapak kaki ini menginjak kerikil tajam,
Sembuhkan aku dari rasa benci, congkak dan menganggap dirimu tak berarti

Minggu, 01 November 2009

Dia

Dia..., dan hanya Dia

Pintu ternganga lebar, terkesimak dan tak berucap, gemuruh ceritera tak ter tuangkan, Senyum gembira tak tersungging, hanya hentakan jantung yang menggebu, mengetarkan arasy yang terhampar.

Menggebu, berderu bak ombak laut selatan. Awan putih itu melingkarinya, tak sadar dia bahwa dia terundang. "Mengapa harus aku?" gumaman jiwa yang tak henti dan tak bisa tertepis. Bertanya..., bertanya... dan terus bertanya...

Kemudian pintu itu ditutup kembali.
Tak mungkin...! itu tak mungkin...! Tak mungkin keluar dan tak bisa keluar.
Itu adalah hak.

Tak ada senyum, tak ada duka, tak ada pula air mata,
indah..., indah... dan semuanya menjadi indah...

Kemudian sayap putih itu mengepak terbuka lebar, terbang tapi menapak dengan tegas, jelas, dan tak bisa di dustakan apalagi dihianati.

Masukklah dia ke dalam lubang goa bukit emas.
Dia tidak tampak lagi...,
tenggelam bersama sukma atma yang terjaga.
Bukit emas itu lemudian bersinar menyelimuti maya pada, menyentuh seluruh kutub-kutub bumi.

Senin, 31 Agustus 2009

Merpati Putih

dia belum sembuh,
sayapnya masih belum pulih betul
awalnya aku ingin merawatnya sampai sembuh
tetapi aku tak punya jagung walau sebutir
adapun beras merah dan putih yang selalu ku tabur
tetapi dia kelihatan tidak begitu menyukainya
walaupun dia kadang memakan beras putihnya
tetapi nampak tidak bersemangat
apalagi aku hanya mengasih dia sangkar
bekas kucing yang 3 bulan ke belakang mati
ahirnya dia kulepas dengan harapan
ditemukan oleh seseorang yang mungkin bisa merawatnya
lebih baik dan lebih baik

"Tuhan pasti menolong mereka-mereka yang beriman"

Jumat, 03 April 2009

Puisi Cinta

“Selamat sore, Pak Tua!, aku Burhan dari pulau seberang. sengaja aku datang kemari untuk menemui Pak Tua”. Pak Tua tidak menjawab, dia hanya menerima sodoran tangan tamunya. Dia tidak mengenali sama sekali tamunya itu. Pak Tua mempersilahkan masuk, “silahkan masuk Anak Muda!”.

“Pasti Pak Tua heran dengan kedatangan aku ini, karena kita belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi mungkin saja Pak Tua tidak heran lagi karena terbiasa menerima tamu orang asing”. Pak Tua tidak menjawab dia hanya menatap tajam tamunya, sepertinya Pak tua ini ingin mengorek isi jangtung si Anak Muda ini. Setelah menghela nafasnya, Pak Tua bicara, “Biar aku tidak menebak-nebak aku tanya saja, sebetulnya apa gerangan yang membuat Anak Muda ini datang ke dangau ku?”. Si Anak Muda menjawab, “Sudah belasan tahun aku tinggalkan pulau ku, dan berada di pulau yang Pak Tua tinggali ini. Ku tinggalkan pulau bukan untuk cari materi, atau mencari istri, aku hanya terbawa angin rindu yang terus bergejolak tak tertahankan. Aku hanya mencari secarik kertas putih, yang sampai saat ini aku belum menemukannya.” “Apakah di pulau mu tidak adak yang memilikinya?. Sela si Pak Tua agak heran. “Banyak orang yang menawarkan kepadaku banyak kertas, sayangnya semua sudah usang dan penuh coretan-coretan yang tidak karuan, sementara kertas yang ku miliki bukan hanya usang tetapi sudah rapuh dan tulisannya sudah banyak yang tidak bisa aku baca”. Pak Tua tersenyum, “Anak muda! kamu keliru datang kemari, karena aku hanya bisa memperlihatkan seperti halnya orang-orang yang pernah Anak Muda temui.” Anak Muda itu tertegun dan nampak matanya berkaca-kaca. Sepertinya dia sudah putus asa dengan pengembaraannya itu. Pak Tua tersenyum, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu. Entah rahasia apa yang dia pendam.

“Anak Muda! Di minum dulu, aku sengaja buatkan kau kopi panas biar tidak terlalu penat setelah kau berjalan begitu panjang” Anak Muda itu trperanjat, dia kaget tahu-tahu di depannya sudah tersedia kopi panas yang menggiurkan. Rupanya anak muda ini terlau dalam melamun merasakan kegalauannya, sampai tidak tahu si Pak Tua pergi untuk membuatkannya kopi. “Terima kasih Pak Tua” Dengan segera anak Muda itu mencicipi kopi buatan Pak Tua. “Aku hanya punya rokok linting, kalau kamu suka buat saja sendiri! Keterlaluan kalau orang gunung tidak bisa buat rokok linting”. “wa..h Pak Tua ini bisa aja. Urusan linting melinting jangan tanya Pak Tua!”. Sambil tersenyum Si Anak Muda mengambil tembakau dan kertasnya. Percakapannya berhenti, keduanya asyik menikmati rokok linting dan kopi panasnya.

“Sebetulnya, untuk apa kamu cari kertas itu?” Tiba-tiba Pak Tua bertanya memecah keheningan. “Aku hanya ingin membuat puisi cinta”. “Untuk siapa?” “Sulit aku katakan Pak Tua, Dia begitu mencintai sementara aku sering mengabaikannya. Lama-lama aku menyadarinya dan aku ingin membalas cintanya dengan menulis beberapa bait puisi. Tapi sayang kertas yang ku miliki sudah dipenuhi coretan-coretan gila dan menjijikan, aku rindu Dia Pak Tua! Tolong aku Pak Tua! Kemana lagi aku harus mencarinya? Aku sudah lelah dengan pengembaraan ini”. “Begini Anak Muda, beberapa tahun kebelakang aku sering menerima titipan kertas, tapi... itu semua sudah aku berikan kepada yang haknya. Jadi untuk sekarang aku tidak punya walau secarik. “Apa Pak Tua tidak bisa mngusahakan buat aku?” “Tidak! Anak muda, semua itu sudah diatur dari sananya, aku hanya bisa berharap semoga ada jawaba untuk itu semua, kita tinggal berpegang pada hak, waktu dan sabar” “Jadi.. sekarang sudah ada jawabannya belum?” Si Anak Muda nampaknya tidak sabar lagi. “Kamu harus belajar menahan diri dari sebuah sebuah keinginan, sebab kalau sudah bagiannya nanti juga ada. Sekarang kamu tinggal saja dulu di sini, mudah-mudahan besok atau lusa ada jawabannya”.

Hampir satu Minggu Anak Muda itu tinggal bersama Pak Tua, dia membantu pekerjaaan Pak Tua di kebun yang hanya se jengkal. Pak Tua ini tinggal sendiri, tidak beristri apa lagi beranak. Tetapi dia selalu nampak bahagia, damai dan tidak pernah mengeluh.

“Anak Muda, kemari!” di suatu malam yang sunyi, Pak Tua memanggil Si Anak Muda yang sedang tidur-tiduran di dalam dangau. “Yah...! aku segera ke sana” Si Anak Muda segera bangun dan meng hampiri Paktua yang sedang duduk di bale-bale sambil menikmati bulan purnama. “Ada apa Pak Tua?, lagi ngapain?, asyik banget ni kayanya?”. “Sudah..sini jangan banyak tanya, ada yang ingin aku bicarakan” Anak Muda itu lalu duduk berhadapan dengan Pak Tua. “Sebelumnya aku minta maaf”. Minta maaf untuk apa, Pak Tua?. Anak Muda itu kaget. “Begini..hampir satu minggu ini aku jarang tidur lelap, aku terus berpikir dan mencari-cari barangkali ada amanah yang aku lupakan, ternyata benar. Satu tahun yang lalu aku pernah kedatangan seorang asing yang katanya dari seberang pulau, ciri-ciri pulau yang dia sebutkan ternyata persis dengan pulau yang kamu tinggalkan itu”. “Lalu.,,,apa katanya Pak Tua? Si Anak Muda menyela, dia tidak sabar. “Aku titipkan kertas ini kepada mu!!. Aku menerimanya dengan tidak banyak tanya karena aku sendiri sebenarnya sudah malas menerima titipan-titipan itu. Sebelum dia pergi di memberikan setumpuk koin emas putih sebagai hadiah kepadaku, tapi aku menolaknya. Aku hanya butuh sekepal tembakau mole dan kertas rokoknya”. “Jadi kertas itu sekarang ada?” tanya Si anaka muda. “Ada.. ni aku berikan amanahnya! kini aku lega, karena amanah ini telah sampai kepada yang haknya, aku ikut bahagia Anak Muda”

Pagi yang indah diiringi nyanyian burung bersahutan, seorang Anak Muda berdiri di depan dangau dengan mata berlinang. “he! Jam berapa kau mau berangkat” sambil menepuk pundak si Anak Muda yang sedang aysik melamun. “Tidak tahu Pak Tua” Anak Muda itu menjawab dengan suara agak berat. “Kenapa Anak Muda? Segaralah kau pulang! dan buatlah puisi cinta yang banyak, tuangkanlah kerinduan kau itu, jangan buang-buang waktu!” “Aku takut Pak Tua, kertas putih ini ternodai di perjalanan, dan membuat catatan-catatan gila dan menjijikan lagi, aku ingin tinggal dengan kau, biar aku dibimbing dan diajarkan membuat puisi cinta yang indah” Sambil menatap Paktua berkata, “Setiap makhluk hidup itu sudah diatur sedemikian rupa pada kadar dan jalannya, kau sendiri di kadarkan untuk menempuh hidup di jalanan yang penuh debu dan kerikil tajam, itu adalah bagian dari rencana atas kecintaannya. Dia pingin tahu sejauh mana rasa cinta itu ter hunjam ke dalam dada. Nah.. sekarang pergilah! Kau akan menemukan inspirasinya di perjalanan. Hidup ini bukan harus takut atau berani, tetapi bersandarlah kepada sang pencinta sejati, Dia akan memelukmu dengan erat, jika kau memeluknya. Dia akan raih kau, jika kau menuju padanya. Aku pohonkan supaya kau diberi kekuatan, dan jangan lupa do’akan pula aku biar aku tetap pada fitrahnya”

Berangkatlah sang pengembara muda, penuh harap dia bisa kembali ke hadapan Pak Tua dengan mebawakan bait-bait puisai cintanya.

Jaka Lenang

Minggu, 29 Maret 2009

Mawar Berduri

Pagi yang dingin ditemani embun pagi berkait di pepohonan dan rerumputan, tak menghalangi seorang kakek untuk terus berjalan mengitari sebuah taman kota. Dia ditemani sang cucu yang setia mendampingi di sampingnya. Sambil lirik kanan lirik kiri, si Kakek terus berjalan. Entah apa yang dia lihat, bunga ditaman atau perempuan cantik yang kebanyakan berpakaian mini.

Embunpun sudah mulai menghilang dari pepohonan dan rerumputan, digantikan dengan sinar sang surya yang mulai meninggi. Rupanya si Kakek sudah cukup lama berjalan mengitari taman itu. Dan si Kakek pun mengajak cucunya untuk beristirahat.

Sambil napas agak tersengal-sengal si Kakek pun menghampiri sebuah bangku yang kebetulan ada di sekitar taman. “Kek! Kenapa istirahatnya di sini? Mendingan di sebelah sana dekat yang jualan, biar kita bisa sambil minum”. Si Kakek tersenyum; “Sudah di sini aja biar adem, disini tidak terlalu terik”, “Sudahlah! Sekarang kamu pergi beli minuman, kita minimnya di sini”. Si Cucu pun mengalah, dia pergi untuk beli minuman.

Si Kakek meneguk se botol air mineral hampir habis, rupanya si Kakek benar-benar kehausan. Si Kakek Menghela napasnya, sambil pandangan diarahkan kedepan melihat taman bunga yang indah. Tiba-tiba raut wajah si Kakek berubah, rupanya si Kakek terus melamun, entah apa yang dia lamunkan.

“kek!” si Cucu berkata sambil menepuk paha si Kakek. Si Kakek terperanjat; “ada apa cu?””Kakek melamun yah?” kata si Cucu. “Ah..tidak! Kakek hanya sediki teringat kejadian masa lalu di tempat ini”. ”Emang ada apa kek?” kata si cucu. “Dulu kakek sering kesini sama si Nenenk, tapi sekarang si Nenek tidak lagi menemani kakek”. “Iya ya Kek! Sayang Nenek sudah pergi”. Si Kakek hanya menghela napas panjang, dia teringat kembali kenangan manisnya bersama si Nenek. Pantas saja si Kakek rajin sekali pergi ke taman.

“kek! Kek! Lihat kek!”. “Si Cucu kembali mengagetkan si Kake. “Ada apa lagi cu?” Kata si Kakek, sambil agak kesel juga karena lamunannya terganggu.”Lihat itu kek! Ada orang memetik bunga?” “Memang kenapa?” “Mungkin dia suka dengan bunga itu?” Kata si Kakek. “Sayangkan kek! Dia Cuma mencumnya, terus dia buang begitu saja”. Si Kakek tersenyum, dan berkata: “Setiap orang itu punya cara dan pandangan yang berbeda ketika berhububngan dengan benda”. “Contohnya bunga, ada yang suka baunya dan ada juga yang suka warnaya”. “Kakek sendiri suka apanya? Kata si Cucu menyela”. Sikakek kembali tersenyum, dan menjawab: “Untuk sekarang, kakek cukup puas dengan melihat bunga itu tumbuh subur ditaman. Biarlah kakek yang ber kunjung kemari untuk melihatnya”. Kenapa kakek tidak menanam aja di depan rumah?” Kata Si Cucu, sambil mengernyitkan dahinya agak bingung.”Jangankan buat ngurus bunga cu, ngurus diri kakek juga susah. Apa lagi harus ngurus bunga, he..he..he..? Kata si Kakek sambil terkekeh. Si Cucu pun ikut tersenyum, entah senyum mengerti atau karena ketawa si Kakek yang lucu.

“Cu! Sekarang giliran kakek yang bertanya yah!”. “Mau nanya apa kek?”. Si Kakek berpikir sejenak, lalu berkata: “Kalau kamu suka bunga apanya?” Si Cucu pun berpikir sejenak: “Kalu aku pinginnya menanam di rumah, biar aku tiap hari bisa melihatnya dan menciumnya. Karena kalau aku sama bunga itu suka semuanya”. “He..he..he..”. Si Kakek kembali terkekeh, lalu berkata smbil melepas senyumnya: “Lalu, kenapa kamu tidak menanamnya?”. “Aku takut kek”. Kata si Cucu. “Takut kenapa?” Tanya si Kakek agak bingung juga dengan pernyataan si Cucu. “Aku suka bunga mawar, tapi aku takut terkena durinya”. “Ha..ha..ha..!” Si Kakek bukan ngekeh lagi tapi sekarang terbahak-bahak mendengar perkataan si Cucu. “Kenapa kek? Malah tertawa aku jadi bingung.” Si Kakek berhenti tertawanya, rupanya si Kakek kasihan juga melihat si Cucu yang kebingungan. Lalu dia berkata: “Cu! Hidup ini penuh dengan resiko, baik melakukan atau tidak”. “Kok bisa?” Sela si Cucu. Si Kakek selang tersenyum, kemudian melanjutkan khotbahnya: “Jika kamu hati-hati, kamu tidak akan terluka. Seandainya terluka itu wajar itulah hidup, berarti harus ada yang kamu perbaiki, kamu jangan mudah mengeluh apa lagi menyalahkan yang lain atau bahkan menyalahkan diri sendiri”. “Terus! Kalau aku tidak melakukannya, resikonya apa?”. Si Cucu kembali menyela, rupanya tertarik juga dengan khotbah si Kakek. Si Kakek mengelus pundak si Cucu sambil menatapnya, kemudian melanjutkan ceritanya: “Jika kamu tidak melakukan, jiwa kamu akan tersiksa dengan keinginan dan angan mu sendiri”. Si Cucu terdiam, rupanya dia mengerti juga khobah si kakek. Lalu dia bertanya: “Lalu.. apa yang harus aku lakukan kek?”. “Raihlah apa yang kamu inginkan, selagi kenginginan itu berakibat baik untuk dirimu, orang tua mu dan orang di sekitar kamu”. “Bertanya lah! Jika kamu menemukan kesulitan. Apalagi Tuhan, dia sangat suka dengan orang yang mau bertanya pada-Nya”.

“Ayo kita pulang! Kita teruskan ceritanya nanti di rumah” Sambil berdiri si Kakek meraih tangan Si Cucu. Keduanya pulang dengan bahagia. Si Kakek bahagia karena ada teman bicara, dan tidak terlalu sepi sepeninggalnya si Nenek. Si Cucu bahagia karena ada pencerahan untuk menentukan langkah selanjutnya dan bahagia punya sorang Kakek yang bijak.

Jaka Lenang